Kerja Dari Rumah Dengan Jualan Foto-Foto Yang Anda di Halaman Rumah

Bisa kerja dari rumah rasanya adalah dambaan bagi setiap orang, yang mengasikkan adalah di jaman sekarang peluang tersebut sangat terbuka lebar. Khususnya bagi anda yang suka dengan dunia fotografi maka kali ini saya akan berbagai tips untuk kerja dari rumah dengan jualan foto online.

Karena situasi anak yang sedang sakit flu maka hari ini saya hanya akan memotret benda-benda sederhana yang ada di sekitar halaman rumah. Pagi ini saya melihat ban bekas, sapu lidi, keran air, hingga tumbuhan-tumbuhan liar yang tumbuh di atas batu-batu conblock.

Sebelum saya melanjutkan cerita pagi hari ini, saya mau kenalin anda semua dengan sebuah platform yang akan mendukung kita untuk bisa kerja dari rumah yaitu Shutterstock. Platform ini sudah ada sejak tahun 2003 sekalipun saya baru aktif menjadi kontributornya sejak tahun 2017. Selama 2 tahun lebih berkecimpung di dunia microstock photography ini saya sudah memiliki 2400++ stok foto yang terjual rutin di Shutterstock.

Beberapa bulan lalu saya sempat mengajak anak dan istri saya mengunjungi museum kereta api Ambarawa dimana selama 1,5 jam mengeksplor tempat ini sayapun memotret koleksi kereta serta detil-detil bangunan museum untuk selanjutnya saya jual juga melalui Shutterstock. Bagi anda yang suka dengan dunia kereta api atau memiliki putra-putri yang sedang berusia produktif unutk sekolah maka museum ini sangat saya anjurkan untuk dikunjungi karena tentunya akan memberikan sensasi belajar yang mengasikkan ketimbang hanya mendengarkan guru di kelas semata.

Seperti ini bentuk penjualan foto-foto saya dari hasil liburan ke Ambarawa beberapa bulan yang lalu,

Kembali lagi ke topik utama hari ini yaitu jualan foto online dengan meng-upload benda-benda yang yang di halaman rumah. Dengan bermodalkan kamera mirrorless EOS M maka saya mendapatkan beberapa benda menarik seperti: ban bekas, pot beton yang digantung di dinding bagian luar, keran, air, dan senter emergency yang saya gantung di atap rumah karena area teras mati lampu kemarin malam.

3 Tips Kerja Dari Rumah Dengan Shutterstock

Jika anda memang tertarik untuk kerja dari rumah maka hal seperti yang saya contohkan karena ini juga bisa anda lakukan. Sekalipun saya juga berkeliling ke beberapa tempat seperti Ambarawa yang foto-fotonya sudah anda lihat di atas tadi dan juga ke Singapura beberapa waktu lalu tapi foto-foto sederhana yang ada di sekitar kita juga tidak kalah potensinya.

Pada prinsipnya kita bisa jualan apa saja yang berbentuk digital di Shutterstock sekalipun yang lazim adalah foto, vector, grafis, video footage, dan juga audio tapi karena pada dasarnya pekerjaan utama saya adalah seorang fotografer maka stok foto adalah yang menjadi utama di bisnis saya.

Bagi anda yang ingin serius untuk bisa kerja dari rumah dengan Shutterstock maka 3 (tiga) tips yang bisa anda lakukan adalah:

  1. Daftar jadi kontributor Shutterstock (saya tulis panduannya di link tersebut)
  2. Memotretlah sebanyak-banyaknya, dan
  3. Submit secara regular tanpa henti, sebagai catatan bahwa setiap hari saya rutin meng-upload 10-15 foto ke Shutterstock

Apakah pekerjaan ini bisa dimulai dengan menggunakan smartphone?

Ya tentu saja bisa karena ada beberapa foto-foto saya yang diambil dengan smartphone dan laku terjual di Shutterstock. Syaratnya sebenarnya mudah karena selama kualitas kameranya mumpuni serta hasil fotonya bersih alias tidak ada noise maka anda bisa berjualan di Shutterstock.

Paska anda submit foto-foto di Shutterstock maka akan ada kurasi atau pemilihan dari pihak Shutterstock tentang diterima atau tidaknya foto-foto anda tadi dan pesan singkat dari saya adalah,

“kalau fotonya di-reject atau ditolak maka jangan putus asa!”

Dari 2400++ stok foto tentu saja saya juga mengalami ratusan kali penolakan foto dimana hal itu tentu tidak jadi masalah, mentalnya memang harus kuat sehingga alih-alih menyerah tapi justru meningkatkan kreatifitas dan terus berkarya.

Apakah saya pernah jenuh karena dapat uangnya kecil?

Oh ya tentu saja, sekalian saya jelaskan bahwa penghasilan terkecil dari jualan foto di Shutterstock itu hanyalah $0.25/download walau tidak semua foto-foto saya laku di harga tersebut. Anda tentu bisa paham juga bahwa $0.25 itu tidak lebih besar dari 3500 rupiah yang mana uang sebanyak ini bahkan tidak cukup untuk membeli es teh manis di sebuah restoran yang ada di mall atau hotel.

Jika anda sudah tiba-tiba berpikir demikian maka rubahlah segera sudut pandang anda dan arah berpikirnya karena aset digital memang bisa dibeli dengan harga yang murah tapi jika kelipatannya ribuan maka anda bahkan bisa tidur santai serta jalan-jalan ketika uang anda terus datang ke rekening.

Foto di atas adalah notifikasi saat Shutterstock mengirimkan saya uang hasil royalti dimana ketika penghasilan anda sudah mencapai minimal $35 maka anda sudah bisa mencairkan uang hasil royalti yang selanjutnya akan ditransfer melalui Paypal. Jika uang sudah masuk melalui Paypal maka anda bisa mencairkan uang tersebut ke hampir semua bank yang ada di Indonesia.

Lihat Langsung Bagaimana Saya Kerja Dari Rumah

Di dalam video Youtube kali ini saya akan menunjukkan kepada anda bagaimana saya memotret benda-benda sederhana yang saya sebutkan tadi di atas, mengeditnya menggunakan Lightroom, dan juga proses saya menjualkan foto-foto saya di Shutterstock.

Hari ini bahkan saya tidak perlu jauh-jauh keluar rumah sekalipun tadi sempat mampir ke Rumah Sakit Panti Rapih untuk cabut gigi, itupun disela-sela waktu menunggu saya masih mengeluarkan kamera dan mengambil beberapa stok foto yang bisa saya jual di Shutterstock.

Silahkan tonton dan subscribe di Channel saya,

eBook “Jualan Foto Dengan Shutterstock”

Saya memang senang sekali menulis ebook sehingga sejak dimulai tahun 2012 lalu hingga kini saya sudah memiliki 27 ebook yang saya jual melalui website maupun masuk ke dalam marketplace seperti Google Book Store. yang paling baru adalah ebook yang berjudul “Jualan Foto Dengan Shutterstock” dimana isinya saya tulis berdasarkan pengalaman pribadi selama 2 tahun pertama menjadi seorang kontributor Shutterstock.

Semua suka duka saya tulis di ebook setebal 60 halaman ini dan secara khusus saya menuliskan chapter tentang midset kenapa sudah sewajarnya saya dan anda semua mempertimbangkan untuk memiliki aset digital yang bisa membuat kita semua punya pasif income tanpa batas sekalipun tidak sedang bekerja secara aktif.

Saya sungguh berharap bahwa apa yang saya tulis di dalam cerita kali ini membantu anda semua untuk berpikiran lebih terbuka bahwa dunia usaha di jaman sekarang sudah jauh berubah jika dibandingkan dengan tahun 80-an di mana ketika saya lahir. Dunia digital benar-benar mengubah semuanya khususnya dari jalur perputaran uang, karena itu kita semua sudah sebaiknya ikut andil di dalam arus ‘positif’ ini sehingga kita tetap bisa hidup dan mencari penghidupan yang layak dengan bermodalkan internet dan sistem digital.

Bima

Professional wedding photographer and blogger since 2010 who put a concern to write a story about photography, traveling, culinary, and hospitality services

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *