Mengintip Kehidupan Geisha di Gion

Setelah sebelumnya saya membahas informasi tentang museum Fujiko Doraemon, kali ini tibalah giliran Gion, sebuah kabupaten yang berada di Kyoto, Jepang. Kabupaten ini dibangun pada abad pertengahan untuk mengakomodasi kebutuhan pengunjung kuil Yasaka, sebuah kuil yang berada di kawasan ini. Tetapi dalam perkembangannya, kabupaten ini berubah menjadi salah satu tempat yang  terkenal sebagai kabupaten geisha (wanita penghibur) yang paling eksklusif di seantero Jepang. Para geisha di kabupaten ini tidak menyebut diri mereka sebagai geisha, melainkan dengan menggunakan kata ‘geiko’ yang berarti ‘seorang wanita seni’ dalam dialek kota Kyoto. Gion dapat dicapai dengan bus dari stasiun Kyoto dengan harga tiket 220 yen (22.600 Rupiah Indonesia) menggunakan bus nomor 100 dan 206. Dengan perjalanan selama 20 menit, Anda akan sampai di stasiun Gion. Daerah yang paling populer di Gion adalah Gion Hanami-koji, yaitu sebuah tempat yang bagus (dan mahal) untuk mengisi perut. Jalan utama dan gang-gang yang ada di sini berdiri banyak rumah tradisional Jepang (machiya) yang sudah dialih fungsikan sebagai restoran yang menawarkan makanan tradisional Jepang maupun makanan internasional.

Antara rerentetan machiya yang membentang di sepanjang di kawasan ini, terdapat beberapa Ochaya (teahouse) yang merupakan salah satu tempat makan eksklusif dan mahal dari semua tempat makan yang ada di kota Kyoto, hal ini karena para tamu yang makan di tempat ini, akan menikmati makanan mereka sambil dihibur oleh para geiko dan maiko (calon geiko). Geiko dan maiko yang berada di Ochaya (teahouse) bertugas untuk memastikan kesenangan semua tamu dengan terlibat dalam percakapan ringan sambil menjaga gelas semua tamu terisi penuh. Geiko juga akan membuat permainan dimana yang kalah biasanya harus meminum segelas bir. Intinya, para geiko atau maiko harus membuat tamu yang berkunjung ke Ochaya merasa senang.

Acara terakhir makan malam di Ochaya ditutup dengan pertunjukan geiko yang menarikan tarian tradisional, diiringi musik tradisional dari shamisen (alat musik dawai asal Jepang yang memiliki tiga senar dan dipetik menggunakan pick yang disebut ‘bachi’ )yang biasanya dimainkan oleh geiko lainnya. Jumlah geiko yang ada dalam sebuah acara makan di Ochaya, tergantung dengan ukuran pesta dan isi dompet pelanggan.

Bagi Anda yang ingin menikmati suasana makan di Ochaya dengan para geiko, Anda harus bersiap mengeluarkan dana yang lumayan banyak, belum lagi secara tradisinya, para geiko dan maiko hanya menemani orang baru yang dikenalkan oleh ‘pengantar’ dari pelanggan yang sudah ada. Namun, jangan khawatir, karena ada beberapa travel agent yang bisa memberikan Anda paket makan siang atau makan malam bersama maiko (calon geiko) di Ochaya.

Layanan dari travel agent di Jepang ini bisa Anda dapatkan dengan membayar kurang lebih totalnya 90.000 yen atau sekitar 9.233.000 Rupiah Indonesia. Harga itu untuk ditemani seorang maiko atau geiko dan makanan yang disediakan Ochaya, belum lagi jika Anda membutuhan penerjemah, maka akan ada lagi tambahan biayanya.

Tetapi bagi Anda yang dana liburannya ala backpacker, Anda bisa ke Gion Corner yang berada di ujung jalan Hanamaji pada jam 6 – 7 sore waktu setempat. Di sana akan ada pertunjukkan singkat geiko yang dikhususkan kepada para turis. Pertunjukkan yang dilakukan berupa tarian tradisional, teater komedi, upacara minum teh, dan pertunjukan lain sebagainya. Sehingga, Anda masih tetap bisa meliht para geisha Gion yang terkenal di Jepang.

Bima

Professional wedding photographer and blogger since 2010 who put a concern to write a story about photography, traveling, culinary, and hospitality services

One thought on “Mengintip Kehidupan Geisha di Gion

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *