Ketika Ucapan Terima Kasih Itu Lebih Mahal Daripada Lamborghini Huracan Spyder

Halo teman-teman semua nama saya Bima seorang laki-laki asli Jakarta yang memilih tinggal di Jogja sejak tahun 1990, terima kasih sudah mampir dan membaca tulisan saya pagi ini.

Sebuah kalimat sederhana, ‘Terima Kasih Ya..!’

Rasanya mulai jarang bisa dengar orang ucapkan kalimat sederhana ini dari mulut dan disertai dengan body gesture yang mendukung sampai saya ga habis pikir apakah sebuah kalimat sesederhana ini sekarang harganya lebih mahal daripada Lamborghini Huracan Performance Spyder.

Lulus kuliah di tahun 2008 membuat saya berkecimpung di bisnis yang terkait langsung dengan hospitality, profesi utama saya adalah seorang wedding photographer sekalipun sejak 5 tahun lalu Allah SWT memberikan saya tambahan amanah masa depan untuk memulai bisnis kamar sewaan melalui Airbnb agar saya bisa menyiapkan masa pensiun saya dengan lebih baik.

Sejak saya mengalami stress berat selama 4 tahun pertama berbisnis karena adanya price-war dan lack of appreciation di bisnis fotografi maka saya memutuskan mengalihkan target market saya ke luar negeri. Sangat tidak mudah karena saya harus bangkrut di tahun 2013, ditambah hutang 200 juta, serta kehilangan BMW seri 3 kesayangan saya, tapi dari kebangkrutan ini saya belajar banyak hal yang salah satunya adalah makna sebuah apresiasi.

Jika bisa saya bagi sebagian kecil pengalaman saya kepada anda maka sebuah kalimat sederhana ‘Terima Kasih’ begitu banyak saya dengar ketika saya melayani client saya di luar negeri.

Thanks for helping me for creating this wonderful pictures!

Thanks for being the best photographer in our wedding day!

Thanks for being gorgeous husband-wife photographer team that give me the best photo session experience! dan masih banyak lagi, begitu juga ketika saya menjadi seorang host di sela-sela waktu nganggur saya…

Thanks Bima for helping me figure out how beautiful your city is,

Thanks for helping my boy-friend to the hospital when he got injured,

dan masih banyak lagi…

Saya tidak bisa bilang secara detil bahwa budaya terima kasih ini hilang total dari rutinitas harian kita sebagai orang Indonesia karena saya juga punya begitu banyak teman, sahabat, dan client orang Indonesia yang begitu tulus mengucapkan terima kasih ini disertai dengan eye contact bahkan pelukan hangat sesama sahabat. Cuma menurut saya, sekali lagi ini menurut saya….

kehidupan modernitas saat ini ditambah tuntutan gaya hidup laksana orang modern rasanya mulai berpengaruh terhadap budaya terima kasih yang ada sejak dulu.

Bagi seseroang yang bayar 15 ribu untuk makan di warteg kemudian pergi begitu saja setelah membayar dan disertai dengan makanan sisa amburadul di atas piring sepertinya sudah dianggap biasa, bagi dia ‘Terserah saya lah…yang penting kan saya bayar, selebihnya urusanmu!’. Tapi anehnya saya juga melihat fenomena semacam ini ketika saya menginap di sebuah hotel bintang 5 sekelas Raffles Hotel Jakarta paska pemotretan pernikahan yang saya lakukan dimana saya melihat salad yang tidak habis, beef sausage yang tidak habis, fresh guava juice yang masih tersisa setengah gelas, dan tentu saja beragam menu enak lainnya yang disuguhkan oleh para Chef dan jajaran staf hotel tersebut….by the way saya tahu persis para staf itu harus datang jam 4 atau 5 pagi untuk mulai memasak dan melakukan begitu banyak upaya untuk menyuguhkan makanan-makanan bergizi tadi.

Jika anda pernah melakukan hal semacam ini maka ijinkan saya berbagi pola pikir dimana pada akhirnya setuju dan tidak itu hak anda.

Sebuah makanan habis dan tidak itu bukan hanya dilihat dari uang yang dibayar karena dibelakang itu ada energi luar biasa untuk mengadakannya. Butiran beras yang anda makan itu berasal dari benih yang butuh berbulan-bulan untuk jadi beras dan butuh listrik serta tenaga manusia untuk mengubahnya menjadi makanan karena itu menghabiskannya tanpa sisa itu adalah bentuk penghargaan anda kepada setiap unsur yang terlibat di pengadaaan nasi tersebut.

Saya punya seorang teman yang bisnisnya seputar kuliner dan saya kenal dia sejak dia bisnis kuliner jalanan hingga sekarang dia punya perusahaan kuliner start up bernama Kulina, Andy namanya. Kebetulan saya dan dia punya hobi masak dan tahukah anda harapan paling tinggi dari seseorang yang menyuguhkan masakan kepada tamu, client, atau bahkan keluarga….No..No…No, bukan uang melainkan MAKANANNYA DIHABISKAN, that’s it!

Seorang sahabat lain bahkan pernah makan di salah satu restorannya Gordon Ramsay yang berokasi di London, kalau suatu saat nanti anda makan di restoran ini maka bisa jadi sang Chef-nya langsung yang akan datang ke meja anda dan bilang “What would you like to eat Sir?”

Tahukah anda kesalahan fatal yang sahabat saya lakukan di sana paska makanannya datang? dia membubuhkan bubuk cabe instan sebagai penambah rasa pedas ke dalam sajian steak medium well, lengkap dengan mesh potato dan sayuran segar yang dipesannya….dan pada saat itu jugalah sang Chef langsung bermuka muram karena dia merasa ‘karya seni-nya’ tidak dihargai.

Semua yang saya sampaikan di sini hanyalah contoh kecil tentang arti sebuah kalimat Terima Kasih dan Apresiasi!

Sampai saat ini saya bisa ambil kesimpulan pribadi bahwa budaya apresiasi mungkin memang sudah mulai luntur di semua kalangan, tidak perduli itu orang yang bayar makan di warteg seharga 15 ribu atau orang yang menginap di hotel bintang 5 seharga 4 juta per malam.

Percayalah….! mengucapkan terima kasih disertai eye contact maupun menepuk bahu orang yang memberikan bantuan tidak akan membuat martabat diri anda yang duduk di Lamborghini Huracan Spyder seharga 15 Milyar menjadi turun, sekalipun orang tersebut hanyalah seorang pengisi bensin di SPBU

Kalau anda tergugah dengan tulisan ini maka anda bisa ajarkan kembali budaya terima kasih ini kepada teman, sahabat, sodara, atau bahkan putra-putri anda yang masih imut-imut karena saya yakin para leluhur bangsa ini juga selalu mengajarkan kita semua untuk mengucapkan terima kasih atas hal sederhana apapun yang orang berikan kepada kita. Terutama bagi anak-anak, dimana mereka pasti akan tumbuh persis seperti orang tuanya.

Seingat saya sih memang dari kecil kitapun diajarkan untuk bilang terima kasih tapi setelah dewasa rasanya kita mulai malu untuk ucapkan kata-kata ini, kadang kesannya seperti kita orang tidak bermartabat ketika mengucapkan Terima kasih padahal tidak sama sekali.

Saya berharap bahwa kehidupan akan semakin baik dimana saya dan anda serta orang lain yang membaca tulisan ini akan mulai sadar bahwa mengucapkan terima kasih justru akan membuat martabat kita jadi lebih baik di hadapan manusia dan Tuhan.

With love from me, Bima

Bima

Professional wedding photographer and blogger since 2010 who put a concern to write a story about photography, traveling, culinary, and hospitality services

2 thoughts on “Ketika Ucapan Terima Kasih Itu Lebih Mahal Daripada Lamborghini Huracan Spyder

  • February 1, 2019 at 10:15 pm
    Permalink

    😍😍😍 terima kasih Big telah mengajarkan kita untuk bersyukur dan berterimakasih…

    Reply
    • February 1, 2019 at 10:57 pm
      Permalink

      makasih smallie, kamu juga selalu menginspirasi 🙂

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat WhatsApp us