Ketika Saya Harus Mengusir Paksa Tamu dan Mengeluarkan Blacklist Guest, Dan Lagi-Lagi Adalah Tamu Indonesia

Bagi anda yang pernah membaca cerita pengalaman saya menjadi host airbnb atau mungkin mengenal saya secara lebih dekat maka mengetahui bahwa saya membangun dan menjalankan 3 (tiga) unit properti airbnb sejak tahun 2013 kesannya adalah keren! Padahal pada kenyataannya keberadaan saya jauh dari kata manis tersebut.

Sebaiknya jangan terlalu cepat memuji karena dalam tulisan kali ini saya akan berbagi cerita pahit ketika saya harus mengusir paksa tamu dan mengeluarkan blacklist guest di salah satu properti yang saya kelola dan saya bilang Damn! Kenapa lagi-lagi para tamu domestik asal Indonesialah penyebabnya.

Boma House dan Regol Ijo (dulu namanya Boma House Malioboro) saya bangun dalam keadaan pas-pasan tanpa modal tapi karena itulah semua fasilitas di rumah tersebut hampir semuanya sharing atau berbagi baik antara tamu dengan saya dan keluarga. Tidak disangka bahwa dengan kebijakan yang seperti inilah Airbnb justru membawa saya melayani tamu yang mayoritas (hampir 90%) adalah turis asing alias bule karena mereka menginap di rumah saya benar-benar untuk istirahat dan mengenal budaya setempat.

Pada prakteknya adalah saya jelas lebih nyaman melayani para bule-bule ‘kere’ ini karena saya tetap bisa mainan lego sambil dlosoran dengan anak sekalipun si bule tadi cuma baca novel seharian sambil sesekali bikin kopi hitam tanpa gula yang berakhir dengan sebuah pujian “Wow…this strong coffee is so good!” padahal saya cuma suguhkan kopi kapal api sachet-an seharga Rp. 500/bungkus.

Anda yang gemar minum kopi pasti paham seperti apa rasanya si kopi kapal api ini dibandingkan bijih-bijih murni asal tanah Gayo, Kintamani, bahkan tanah Papua!

Singkat cerita barulah di tahun 2018 saya mendapat seorang investor yang akhirnya membuat saya bisa menjalankan bisnis Airbnb dengan lebih baik, sebut saja mulai kamar yang sempurna, fasilitas yang lengkap, kasur yang bikin anda males bangun, hingga sebuah coffee shop bernama Sapulu yang akan menyuguhkan fresh hot americano kepada anda setiap pagi secara gratis.

Tidak lupa baru di properti ketiga bernama The Chendela inilah saya dibantu oleh seorang arsitek – Cahyo Bandono dan interior desainer terbaik di kota tempat saya tinggal untuk membuat sebuah rumah cantik yang penuh dengan unsur seni.

Tamu saya ini berasal dari Seattle, Amerika dan dia berlayar dengan kapal berdua dengan suaminya hingga tujuan akhir di Melbourne. Menginap di rumah selama 4 hari karena kapalnya sedang di perbaiki di salah satu dock di Kuala Lumpur
Tamu saya ini seorang pilot di daerah Colorado Amerika dimana hobinya selalu main ski di tempat-tempat terbaik dunia

 

Kenapa Sih Mereka Ini Susah Bener Buat Mentaati Peraturan?

Ini adalah pertanyaan yang berulang kali muncul di kepala saya ketika para tamu domestik ini menginap di rumah, dari yang ngomong kasar sama staf, merokok di kamar ber-AC (udah jelas-jelas ada larangannya), hingga problem over occupancy dimana sebuah kamar yang sudah jelas-jelas ditulis maksimal untuk 2 adult akhirnya di isi hingga 3, 5, dan yang terakhir adalah 7 orang.

“Suka-Suka Sayalah, Kan Yang Nginep Saya, dan Udah Saya Bayar Tuh Kamar-nya”

Ini adalah kalimat singkat yang berulang kali saya dengar dari curhatan para staf, sampai rasanya kasihan banget dengan mereka yang sudah bekerja dengan luar biasa yang ujung-ujungnya hanya dianggap sebagai ‘pembantu’ atau buruh kasar di rumah tempat saya tinggal, Those guest are truly asshole!

Saya ga habis pikir ini bisa terjadi berulang kali dari para tamu yang jelas-jelas adalah bangsa saya sendiri dan ini mutlak berasal dari beragam kalangan mulai dari anak kuliahan dengan dalih ‘Staycation’ dan lulusan fresh graduate yang baru awal-awal kerja (ini mayoritas tersangka utama) bahkan hingga orang tua yang saya yakin umurnya sudah lebih dari 45 tahun.

 

Mungkin Karena Kurang Piknik Atau Kesalahan Pemahaman Bahwa Uang Bisa Membeli Segalanya!

Bagi anda yang sudah pernah berlibur ke luar negeri atau mungkin sekedar meluangkan waktu untuk sekolah di sana, saya bisa yakin bahwa anda punya manner yang jelas berbeda.

Di Singapura misalnya, anda berani merokok di tempat yang terlarang maka jelas anda akan kehilangan ratusan Singapore Dollar hanya untuk menebus kesalahan anda. Beda lagi ketika anda berada di sekitaran Jerman, berani memotret korban kecelakaan maka anda akan segera kehilangan beberapa ratus Euro hanya untuk menebus kurangnya rasa kemanusiaan anda terhadap si korban tersebut.

Ini bukan karena luar negeri lebih baik tapi karena pendidikan di sana lebih menitik beratkan kepada perasaan saling menghormati!

Hal itu jelas-jelas berbeda ketika sebagai manusia kita mulai berpikir bahwa uang bisa membeli segalanya, karena dengan begitu kita justru akan kehilangan rasa saling menghormati, mengapresiasi, bahkan mulai menganggap bahwa peraturan memang tercipta UNTUK DILANGGAR! Pernah kan melihat mobil-mobil mewah melanggar traffic light? ini adalah bukti nyata bahwa uang bukan satu-satunya alat untuk membeli otak dan perasaan.

Ketika ini terjadi kepada saya dan tim maka saya cuma bisa berdoa bahwa…

“Tuhan, biarkan mereka merasakan sakit hati seperti yang saya dan staff rasakan saat ini dan berikan mereka kesempatan untuk belajar jadi lebih baik dengan cara-Mu”

 

Ketika Saya Harus Mengusir Paksa Tamu dan Mengeluarkan Blacklist Guest, Dan Lagi-Lagi Adalah Tamu Indonesia!

Dalam waktu 2 minggu terakhir ini, artinya tidak lama dari saya mem-publish cerita ini saya sudah mengeluarkan 3 (tiga) daftar nama yang dikategorikan sebagai ‘Blacklist Guest’ artinya seseorang yang namanya ada di dalam daftar tersebut maka dia TIDAK AKAN PERNAH BISA MENGINJAKKAN KAKI DI RUMAH SAYA LAGI!

Tahukah anda,

Bahwa selama saya menjadi host Airbnb sejak 2013 s.d. 2018 (artinya selama 5 tahun) dan melayani para tamu-tamu bule, saya TIDAK PERNAH mengeluarkan daftar hitam ini dan barulah di properti ke 3 saya yang bernama The Chendela dimana rumah ini baru beroperasi selama 6 bulan dan sengaja saya khususkan untuk market domestik maka sudah ada 3 nama yang saya HARAMKAN untuk masuk ke rumah saya lagi.

Semua peraturan sudah saya tulis rapi baik di whatsapp note, Airbnb profile, bahkan sampai di house manual yang saya pajang di setiap kamar. Cuma balik lagi, tersangka pelanggaran selalu datang dari tamu domestik, Damn! what’s wrong them?

Hingga akhirnya saya lebih memilih untuk mengusir paksa tamu-tamu tersebut dan mengembalikan 100% uang mereka, So true! saya ga’ butuh duit dari orang-orang yang justru bikin onar di rumah saya dan saya ga’ mau anak istri saya makan duit yang berasal dari tangan orang-orang kampungan macam mereka!

Business is just business dan saya tahu akan selalu ada Asshole person dimanapun bisnis itu berada, tapi satu hal yang saya yakini bahwa Tuhan sudah menebarkan begitu banyak rejeki halal dan barokah dimana tugas saya sebagai hamba hanya perlu berjuang dan menjemputnya.

So true! saya ga’ butuh duit dari orang-orang yang justru bikin onar di rumah saya dan saya ga’ mau anak istri saya makan duit yang berasal dari tangan orang-orang kampungan macam mereka!

 

Kesimpulan…

Menjadi seorang host Airbnb itu bukanlah perkara gampang dimana anda tinggal beli properti dan selesai, BIG NO! Anda mutlak mesti mengelolanya dengan baik dan pastikan terjun langsung di dalamnya. Daftarkan properti anda segera, tulis deskripsi hunian dengan baik, dan tulis peraturannya dengan jelas.

Ingat! di Airbnb anda MUTLAK MENJADI PENGUASA HUNIAN TERSEBUT, anda mau sewakan maka tinggal sewakan, anda mau blokir maka tinggal blokir kamarnya. Pada prinsipnya adalah para tamu yang memesan kamar melalui Airbnb itu adalah para traveler yang numpang tidur di rumah anda, tapi dengan cara membayar. Karena itulah segala peraturan yang anda buat wajib dipatuhi oleh para tamu-tamu yang menginap.

Anda yang sudah tertarik menjadi seorang host Airbnb maka bisa langsung daftarkan properti anda di sini!

Tapi jika anda ragu dan ingin mengetahui SEMUA seluk beluk bisnis ini secara langsung dari saya maka silahkan buka halaman Airbnb Host Indonesia karena saya akan bagikan pengalaman selama 6 tahun ini kepada anda dalam format video dimana saya akan membawa anda secara visual mengunjungi ketiga properti Airbnb yang saya jalankan hingga menceritakan cerita suka dukanya.

Semoga tulisan kali ini menginspirasi anda-anda yang sedang atau baru akan menjalankan bisnis Airbnb di rumah anda!

Bima

Professional wedding photographer and blogger since 2010 who put a concern to write a story about photography, traveling, culinary, and hospitality services

6 thoughts on “Ketika Saya Harus Mengusir Paksa Tamu dan Mengeluarkan Blacklist Guest, Dan Lagi-Lagi Adalah Tamu Indonesia

  • July 14, 2019 at 2:46 pm
    Permalink

    Saya juga pernah merasakan kaya gitu.
    Kebetulan dulu pernah bekerja dihotel dan nyata peraturan hanyalah peraturan

    Reply
    • July 14, 2019 at 8:16 pm
      Permalink

      iya mas rendi, kalo udah pernah kerja di hospitality pasti bs ngerasain ya mas

      Reply
  • July 14, 2019 at 4:22 pm
    Permalink

    Waduhh mas
    Kemaren ke jogja ndak bisa nginap di sampean penuhhh

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *